Wednesday, 1 January 2020

Purnama yang Tenggelam

Terkadang cinta itu hadir dalam bentuk yang sederhana. Mungkin cinta hadir bukan karena harta. Cinta baik hadir karena ketulusan pelakunya. Ada cinta yang harus di perjuangkan, meskipun terkadang sulit.
Hanya orang bodoh yang tidak menghargai cinta. Meskipun orang yang mencintai itu tidak sempurna. Jangan penah sekalipun membencinya. Jika ia pernah melakukan salah, jangan pernah membencinya.
***



Shitan sarastika memenahi jilbab baru nya. Jilbab dengan motif kotak-kotak, di padu dengan gamis warna coklat muda. Menambah kecantikannya. Enam bulan lagi akan diwisuda. Shinta akan menggondol gelar Serjana Kedokteran. Sungguh, sangat indah rencana allah untuk dirinya.
Kedua orang tua Shinta meninggal 22 tahun yang lalu. Ketika dirinya masih berumur satu minggu. Ibunya sakit kemudian di susul oleh ayahnya. Keduanya meninggal di hari yang sama. Shinta kemudian di asuh oleh kakak perempuannya.
Marni sarastika nama perempuan kecil berusia 10 tahun kala itu. Marni sarastika, seorang anak perempuan kecil yang luar biasa hebat. Marni tumbuh menjadi gadis yang kuat. Dengan kebesaran jiwanya, ia mampu membiayai kuliah adiknya di Fakultas Kedokteran.
“Mbak, gamisnya bagus tidak?” Shinta bertanya pada Marni.
“Adik mbak cantik banget. Bagaikan bidadari surga” Marni berkata, sembari membenahi jilbab yang di pakai shinta.
“Mbak kapan pakai jilbab seperti Shinta?” shinta merengek kepada Marni.
“Nantilah, kalau sudah waktunya mbak pasti memakainya.” Jawaban itu saja yang selalu di berikan Marni.
“Mbak Mar kapan mau menikah?”  Shinta tanyakan itu lagi pada Marni.
“Shinta, bukannya aku tidak mau menikah. Pokoknya kalau Shinta udah jadi dokter aku   akan menikah”  jawaban itu berulang kali  meluncur dari bibir Marni. Jawaban klise dari seorang kakak pada adiknya.
 “tahun ini aku membutuhkan butuhkan banyak biaya.Kampus mengharuskan aku untuk melakukan penelitian di luar provinsi” Shinta memeluk hangat Marni.
“Shinta, ssstt..” Marni menutupkan jarinya ke bibir Shinta. Kemudian ia  berkata “Biaya kuliah aku yang mencarikan. Berapa pun itu besarnya. Tugas kamu adalah belajar”
“Tapi mbak..?”  Shinta menangis. Air matanya jatuh di baju Marni.
“Sudahlah tidak perlu menangis, nanti cantikmu hilang”
Marni memeluk Shinta. Air matanya hampir jatuh, namun ia tahan. Agar tidak terlihat cengeng di hadapan adiknya. Meskipun banyak beban di pundaknya. Dia berjanji akan menjaga Shinta, amanah dari kedua orang tuanya. Harus di tunaikan sesulit apapun itu.
Marni menatap lagit sore. Ada segerombolan burung pipit terbang ke arah selatan. Entah apa yang ada dalam benak Marni, tidak sekalipun ia memikirkan dirinya sendiri. Cinta yang sulit di gambarkan dengan apapun. Shinta sudah berulang kali memberikan nasehat pada kakaknya agar bersedia menggunakan jilbab kemudian rajin shalat. Namun Marni masih menolaknya. Marni tidak menganggap ibadah adalah hal yang paling penting. Bagi dirinya, bisa bekerja kemudian membiayayi kuliah adiknya sudah cukup bahagia. Shinta masih berharap kakaknya mau berubah. Mendekati usia 30, Marni masih sangat cantik. Sudah ada beberapa pemuda datang meminang, namun semua pemuda yang datang itu di tolaknya. Marni masih ingin menyelesaikan tugasnya. Membiayai Shinta hingga mendapat gelar Dokter. Cita-cita Marni hampir selesai, enam bulan kedepan Shinta akan selesai dari kuliah dokternya.
Shinta sangat mencintai Marni. Cinta yang tidak bisa di terjemahkan dengan bahasa apapun. Cinta yang tidak dapat di lukiskan dengan keindahan apapun. Cinta yang melahirkan nilai-nilai kesatuan hati. Jika tidak ada Marni, mungkin Shinta sudah tidak hidup saat ini.
***
Beberapa hari ini sedang ramai pemberitaan penertiban kawasan Kali Jodo. Shinta tertarik untuk melakukan penelitian di kawasan tersebut. Sebuah media online menyebutkan ada kurang lebih 100 orang terkena HIV AIDS. Mereka yang terkena penyakit tersebut sebagian besar dari mereka adalah PSK. Shinta merasa terpanggil untuk melakukan penelitian. Jiwanya tertarik untuk mengetahui kondisi PSK di kawasan tersebut secara langsung. Siapa saja orang yang menjadi PSK?, Apa motif mereka untuk menjadi PSK? Bagaimana pengetahuan agama mereka? Sejauh mana pemahaman mereka tentang virus mematikan yaitu HIV AIDS?
Kali Jodo merupakan kawasan kecil yang berada di Tampora Jakarta Barat. Warga masyarakat menggantungkan hidupnya pada kawasan ini. Warga penghuni umumnya adalah pendatang dari luar Jakarta. Sebagian warga menghuni rumah-rumah kecil di sekitar bantaran kali. Jika malam datang, kawasan ini di sulap menjadi tempat hiburan malam. Beberapa isu menyebutkan, kawasan ini merupakan lahan subur yang menyediakan pekerja sex komersial.
Shinta mendatangi tempat tersebut pada malam hari. Memang baru pertama kali Shinta datang kesana. Ada perasaan was-was dalam hati. Shinta sudah menguatkan tekad. Penelitian ini harus berhasil. Kelak, penelitian ini akan menjadi bagian tugas akhir kuliahnya.
Menggunakan jilbab dipadu dengan celana kain agak lebar, Shinta berangkat ke Kali Jodo. Purnama tampak bersinar terang. Kilaunya secerah hati Shinta saat ini. Dia tersenyum tentang perjuangan Marni. Shinta berharap dapat membahagiakan kakaknya di kemudian hari. Ketika purnama sudah naik, Shinta sudah sampai di kawasan Kali Jodo. Beberapa rumah berderet rapi. Suasananya malam ini agak sepi. Beberapa orang saja yang terlihat duduk di luar rumah. Sebagian tempat hiburan seperti cafe juga sepi. Mungkin di sebabkan adanya kabar penertiban oleh pemerintah DKI Jakarta. Shinta beranikan diri untuk melihat suasana. Nomor rumah seseorang yang akan di wawancara sudah di genggam. Informasi di dapat dari seorang teman yang sudah lebih dahulu melakukan penelitian. Dibutuhkan sekitar 30 orang PSK untuk di wawancara. Malam ini adalah wanita pertama yang akan di wawancara.
Shinta sampai pada rumah pada tembok berwarna biru. Pagar rumah pendek dengan warna coklat. Lampu menyala terang di luar rumah. Sekilas jika dilihat, rumah memang di sewakan untuk penginapan sementara. Peralatan untuk merekam sudah di genggam jari mungil Shinta. Tangan mungil hampir mengetuk pintu yang sedikit terbuka. Namun, tangan itu tiba-tiba menjadi kaku. Bagaikan ada suara halilintar menghantam kepala Shinta. Dari dalam rumah terdengar suara yang telah dikenalnya 22 tahun ini.
“Kamu janjikan mau bayar lebih malam ini. Aku membutuhkan uang banyak bulan ini” wanita itu berbisik.
“Iya akan aku bayar berapapun. Asal.....”
“dooorrr” Shinta mendorong pintu dengan keras. Pintu sudah terbuka. Mata Shinta terbelalak seketika, jantungnya pun hampir berhenti.
“Mbak Marni...?” suara Shinta kelu.
“Shinta, maafkan mbak...!” Marni kaget dengan kehadiran Shinta di kamarnya. Lelaki yang berada di samping Marni pun terlihat kaget.
“Mbak Marni, jadi..biaya kuliahku makan minumku selama ini dari hasil pekerjaan ini?”
“Shinta, biar Mbak jelaskan dulu!”
Air mata Marni menetes. Sulit menjelaskan apa yang sudah di lakukannya selama ini.Tentang jalan hidup gelap untuk membiayai hidup Shinta.
“Shinta benci mbak. Shinta ngak mau melihat mbak lagi! Shinta benci mbak...”
Shinta menangis. Rintihannya hingga ke penjuru langit. Kedua kakinya kencang berlari keluar rumah. Hatinya bagaikan disayat dengan ribuan pisau sangat tajam.
“Shinta jijik melihat Mbak Marni”
“Shinta tolong jangan jijik melihat mbak. Maafkan mbak. Shinta boleh benci pekerjaan mbak, tapi jangan pernah jijik pada mbak” Marni bersimpuh di hadapan Shinta. Bagaikan budak mengadu kepada tuannya.
“Shinta tidak sudi lagi melihat mbak”
“Astaghfirullah..” tiba-tiba terucap Istighfar dari bibir Marni. “Duh gusti allah, ampuni Marni”
. Demi shinta, Marni rela berprofesi sebagai PSK, ia tidak mau jika kelak adiknya bernasib sama seperti dirinya. Sebuah niat suci menjadikan adiknya seorang dokter tidak sebagai PSK. Namun sudah terlambat. Shinta sudah pergi dari hadapannya, berlari menembus malam gelap dan pekat. Purnama telah tenggelam di langit Kali Jodo. Angin berdesir meninggalkan pesakitan. Semua di luar dugaannya  Marni yang selama ini ia anggap sebagai orang yang paling berjasa dalam hidupnya ternyata rela menjadikan dirinya sebagai manusia yang tak bermartabat.

No comments:

Post a Comment